Seringkali saat berpuasa
keinginan kita justru tidak terbendung banyaknya. Ingin sekali memakan ini,
memakan itu ketika berbuka puasa. Seperti seluruh hal yang bisa lihat juga bisa
kita nikmati sepuasnya, seluruhnya, padahal tidak demikian. Kita tergoda penampilan
luar, bukan karena apa yang benar-benar kita butuhkan. Nabi SAW menggambarkan
manusia sebagaimana dalam sabdanya,
"Seandainya
manusia diberi 1 lembah penuh dengan emas, ia tentu ingin lagi yang ke-2. Jika
ia diberi yang ke-2, ia ingin lagi yang ke-3. Tidak ada yang bisa menghalangi
isi perutnya selain tanah ..." (HR al-Bukhari)
Bunyi hadist tersebut sangat
cocok dengan yang kita rasakan. Bahkan setelah memilih 1 menu dan memakannya, memilih 1 baju dan membelinya,
kita masih dan terus memiliki keinginan untuk membeli makanan enak dan baju bagus yang lain, kendaraan bagus
yang lain, rumah lebih besar yang lain. ini berarti keinginan manusia tidak
akan pernah cukup sampai kapanpun selama hidup. Keinginan kita menumpuk satu
demi satu menjadi gundukan keinginan yang kadang tidak memiliki esensi apa-apa
selain nafsu saja.
Melihat lagi kasus yang
sedang viral, rasa cukup seharusnya kita biasakan dalam kehidupan. Dengan gaji
hampir 5 Milyar setiap bulan masih ada manusia yang merasa kurang sehingga akhirnya melakukan
hal yang dilarang, korupsi. Tapi itulah bentuk nyata dari betapa mengerikannya
rasa kurang, tidak hanya berlaku bagi orang lain – kita sebagai manusia lain juga
tidak lepas dari hal tersebut.
Tidak lepas dari godaan rasa kurang dan tidak bersyukur atas segala pemberian, itulah gunanya rasa cukup harus kita normalisasikan dalam setiap keadaan. Harus kita latih dalam setiap kesempatan.
Salah 1 kalimat yang
anehnya terus menggema di telinga dan pikiran saya berulang setiap tahun dan
selalu relate,
“fasting for 17
hours and being full after 10 minutes is a prime example of how fleeting the
pleasures of this world are and how small this life is.”
Berpuasa selama berjam-jam
(yang berbeda setiap waktunya) dan merasa kenyang hanya setelah 10-15 menit
adalah contoh betapa cepatnya kenikmatan dunia ini dan betapa kecilnya
kehidupan ini. Mau diulang seberapa kali pun saya memahaminya dengan, kenikmatan
yang kita dapatkan dari sesuatu yang sifatnya konsumsi atas barang tidak pernah
bertahan lama.
Kita menginginkan makanan
tetapi terbatas perut kenyang. Kita menginginkan banyak hal di dunia tapi
terbatas pada kita hanya memiliki 2 kaki untuk menggunakan sepatu, 1 badan
untuk dikenakan sandang, 1 tubuh untuk dihuni dan diberi isi – yang bermuara
pada “tidak banyak yang kita butuhkan untuk hidup di dunia”.
Berkebalikan dengan itu, konsumsi
bagi makanan hati dan pikiran kita tidak pernah terbatas. Sangat luas. Sangat
lapang. Lantas, jika suatu waktu nanti kalian menginginkan sesuatu meskipun
mampu, tanyakan lagi pada diri, benarkah perut ini membutuhkanya untuk asupan? benarkah ini suatu kebutuhan atau hanya
keinginan? Benarkah ini layak dilakukan? Hal ini bisa dipertanggungjawabkan pemanfaatannya
atau tidak? agar kita tidak perlu bertanggung jawab atas hal-hal yang tidak
layak kita pertanggungjawabkan di akhirat kelak.
Mari melatih rasa cukup dan berkata cukup untuk diri sendiri. Sebelum melakukan apapun, tengok kembali lemari pakaian kita - rak sepatu kita - rak buku kita. Ingat kembali bahwa Allah
membenci orang yang menghambur-hamburkan harta dan berlebihan terhadap dunia.
“Kekayaan (yang
hakiki) bukanlah dengan banyaknya harta. Namun kekayaan (yang hakiki) adalah
hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari 6446 & Muslim 1051).”
Semoga kita selalu dilimpahkan
hati yang terus merasa cukup dan bahagia atas karunia terus menerus dari Allah
Ta’ala. Amin.
Semoga bermanfaat!
Semoga Allah SWT menjadikan kita sebagai hamba-hambaNya yg senantiasa bersyukur.
BalasHapusAmiin ya rabb
Hapus