“Hai sekalian manusia,
makanlah yang halal lagi baik .. “ (Al Baqarah : 168)
Makanan untuk kehidupan manusia
tidak hanya satu. Bukan hanya makanan dalam arti harfiah yang kita pahami
berbentuk nasi, lauk seperti tahu tempe, tapi juga dalam bentuk lain. Jika
makanan seperti nasi tahu tempe memberikan asupan energi bagi tubuh untuk melakukan
kegiatan sehari-hari, makanan yang ini memberikan penghidupan bagi yang lainnya,
bagi hati dan pikiran yang kita gunakan selama hidup.
Allah menitipkan bagi kita
amanah tubuh untuk dijaga, secara keseluruhan – tubuh manusia tidak hanya terdiri
dari perut, tapi otak, mata, telinga, mulut, hati, tulang, kulit, dan lain
sebagainya - oleh karena itu, al-Quran maupun ilmu terapan lainnya memberikan informasi
tentang asupan yang baik bagi semuanya, tidak hanya asupan bagi perut.
Al Quran memberikan petunjuk
lebih detail mengenai makanan bagi manusia. Apa makanan bagi hati yang
gelisah, bagi otak agar terasah, bagi jiwa untuk semangat.
Saya punya satu cerita yang
ingin sekali saya bagi untuk pembelajaran. Dalam istilah psikologi ini namanya psikosomatis.
Psikosomatis berarti kondisi yang membuat seseorang mengalami rasa sakit
atau gangguan fungsi tubuh yang dipengaruhi oleh kondisi mental orang tersebut.
Mudahnya, kondisi emosional, psikologis, dan pikiran seseorang dapat
memengaruhi kesehatan fisiknya yang kadang tidak memiliki penjelasan langsung
secara medis. Saya dan beberapa teman lain mungkin pernah mengalaminya,
tiba-tiba pusing atau merasakan sakit di bagian tubuh lain karena menahan emosi
atau merasakan emosi lain yang tertahan.
Beberapa tahun lalu, saya didiagnosis dengan asam lambung akut karena selalu merasakan sakit di perut yang tidak tertahankan. Makanan tidak pernah
bertahan lama karena langsung dimuntahkan, bahkan bergerak saja rasanya sakit
dan perih tiba-tiba. Ketika memeriksakannya ke dokter sampai rawat jalan berbulan-bulan
dan mengkonsumsi obat rutin, USG dan bahkan endoskopi – tidak ditemui satu
masalahpun di perut saya. jawabannya saya dapati kemudian, sepertinya saya
menahan marah kepada seseorang dan kemarahan itu yang menyebabkan perut saya sakit.
Kali lain, saya merasa sebal
pada ayah saya - dengan rasa sebal itu saya memutuskan pergi dari rumah. Bukan
kabur, hanya ingin sejenak pergi dan mencari pengalihan atau sekedar udara
segar untuk menjernihkan pikiran. Bukan rasa segar yang saya dapat, sesampainya
di tempat tujuan, perut saya mulas luar biasa sampai harus meninggalkan agenda
dan wajib ke toilet. 10 menit kemudian saya masih merasa mulas dan mencoba
menyadari keadaan saya. Ah ya, akhirnya
saya paham. Ini adalah respon kemarahan saya yang meluap. Meskipun terlambat
menyadarinya, saya paham alasan mengapa perut saya sakit dan mencoba
menganalisis bagaimana merilis perasaan marah itu lewat berbagai cara.
Sebenarnya hal tersebut
secara ilmu telah disampaikan beberapa kali bahwa perasaan marah dalam diri
seseorang dapat merusak tubuhnya sendiri. Menurut artikel dari Huffington Post,
Cynthia Thaik (seorang ahli kardiologi) menyatakan bahwa emosi negatif yang
menumpuk di dalam jiwa tubuh pikiran dapat berpengaruh buruk pada organ &
proses alami tubuh, salah satunya memicu tekanan darah, stress, cemas, sakit
kepala.
Yang artinya bahwa, apapun
yang kita makan (dalam pikiran) ternyata juga berpengaruh pada tubuh atau badan.
Apapun yang kita makan (dalam jiwa) juga akan mempengaruhi emosi kita. Dan
begitulah kita hidup dengan makanan makanan itu. jika kalian fokus pada segala
energi negative dan membiarkannya, maka sebenarnya bukan orang lain yang akan
terkena dampaknya, tapi diri sendiri.
Jadi, jika kita kembali pada
bunyi surat al-baqarah di atas, daripada memakan bagi pikiran dan jiwa kita hal
yang buruk, menyakiti, tidak bermanfaat, mari lebih selektif untuk memberi
makan pikiran dan jiwa kita dengan asupan yang lebih baik. Selektiflah memberi
makan bagi tubuh yang merupakan Amanah kita di dunia.
Seandainya dalam suatu kondisi pada akhirnya kita menjadi marah, hilang kendali, pastikan kita dapat mengontrolnya supaya tidak lebih menyakiti tubuh kita. Akui rasa marah itu, rilis, amati emosi tersebut untuk dapat diolah dan ceritakan pada orang yang kalian percaya. Pikirkan hal baik supaya imbas yang kita terima akan selalu baik, bahkan dalam keadaan tidak menyenangkan.
Semoga bermanfaat!
Tidak ada komentar
Terima kasih telah berkunjung.
Latifa Mustafida